Upaya Efektivitas Pembelajaran dan Harapannya pada Masa Pandemi

Upaya Efektivitas Pembelajaran dan Harapannya pada Masa Pandemi

Penulis: Muhammad Agung Prayogo, M.Pd.

Oleh Muhammad Agung Prayogo, M.Pd.

Aktivitas manusia di berbagai sektor kehidupan telah terganggu akibat adanya pandemi Covid-19. Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV-2) atau lebih dikenal dengan nama virus corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menyebabkan penyakit menular ke manusia.

Seseorang yang telah terinfeksi virus ini akan mengidap penyakit yang diberi nama Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Semenjak muncul pertama kali di kota Wuhan, China, pada Desember 2019, virus ini telah menyebar dengan sangat cepat ke berbagai negara di belahan dunia. Tercatat pada tanggal 7 Maret 2021 ada 114.525.631 kasus Covid-19 di seluruh dunia dengan total jumlah kematian 2.601.757 kasus. Di Indonesia sendiri sudah ada 1.336.682 kasus dengan jumlah kematian mencapai 37.154 kasus.

Penyebaran virus yang sangat cepat ini disebabkan oleh mudahnya virus ini menular, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penularannya melalui saluran pernafasan atau seluruh bagian tubuh kita yang bisa saja masuk seperti mulut, hidung atau bahkan mata. Seseorang bisa terinfeksi virus ini langsung dari pengidap Covid-19 ataupun bisa jadi virus telah menempel di berbagai benda yang sudah tersentuh oleh pengidap Covid-19. Diperparah dengan adanya orang tanpa gejala (OTG) yang sebetulnya ia sudah mengidap Covid-19 tapi tidak disadarinya, sehingga virus corona ini bisa dengan sangat mudah menyebar di mana-mana.

Hal ini membuat pemerintahan di berbagai negara harus menerapkan berbagai kebijakan agar penularan dari penyakit ini tidak berlangsung secara cepat. Salah satu cara untuk memutus mata rantai penularan COVID-19 adalah dengan melakukan pembatasan interaksi masyarakat yang diterapkan dengan istilah physical distancing. Namun, karena adanya pembatasan interaksi tersebut, hal ini berdampak pada berbagai sektor kehidupan dan menghambat laju pertumbuhannya. Sebutlah saja bidang ekonomi, sosial dan tentu saja pendidikan.

Di Indonesia sendiri sudah diterapkan kebijakan khususnya untuk sektor pendidikan bahwa pembelajaran dilakukan secara jarak jauh. Siswa diharuskan untuk tidak berangkat sekolah dan belajar dari rumah (BDR). Kebijakan ini menerapkan metode belajar dengan sistem daring (dalam jaringan) atau melalui sistem online. Kebijakan pemerintah ini telah diberlakukan di beberapa wilayah provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.

Sistem pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa tetapi dilakukan melalui online dengan menggunakan jaringan internet. Hal ini sesuai dengan himbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia melalui Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijaksanaan Pendidikan dalam masa Darurat  Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19). Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC), Laptop atau handphone yang terhubung dengan koneksi jaringan internet. Guru dapat melakukan pembelajaran bersama diwaktu yang sama menggunakan aplikasi di media sosial seperti WhatsApp, GoogleMeet, Google Classroom ataupun media lainnya. Dengan demikian, guru dapat memastikan siswa mengikuti pembelajaran dalam waktu yang bersamaan, meskipun di tempat yang berbeda.

Tentu saja, penerapan kebijakan belajar dari rumah (BDR) seperti ini pasti memiliki hambatan-hambatan yang terjadi. Tidak semua siswa maupun orangtua siswa di Indonesia memiliki handphone yang memadai untuk menunjang kegiatan pembelajaran daring  (online) ini. Begitu juga dengan yang sudah memilikinya, banyak yang mengeluh tentang sistem BDR ini. Permasalahan ketersediaan kuota membutuhkan biaya cukup tinggi bagi siswa dan guru guna memfasilitasi kebutuhan pembelajaran daring. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak dan banyak diantara orangtua siswa yang tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet. Selain itu, pembelajaran daring tidak bisa lepas dari jaringan internet. Koneksi jaringan internet di berbagai daerah berbeda-beda. Ketika koneksi jaringan jelek atau tidak ada, maka ini menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh siswa maupun guru. Seta perlu disadari bahwa ketidaksiapan guru dan siswa terhadap pembelajaran daring juga menjadi masalah. Kegagapan pembelajaran daring memang nampak terlihat di hadapan kita, tidak hanya satu atau dua sekolah saja melainkan menyeluruh di beberapa daerah di Indonesia. Belum lagi siswa yang menjadi lebih malas dalam belajar dikarenakan tidak bisa bertatap langsung dengan gurunya dan hanya berdiam di rumah.

Kemunculan berbagai masalah tersebut tentunya harus diiringi dengan usaha dalam mencari berbagai solusinya. Seluruh elemen pendidikan harus bekerjasama agar pendidikan di Indonesia tetap berjalan dengan efektif. Pemerintah telah berupaya untuk memberikan bantuan kuota internet gratis pada guru dan siswa. Begitu pula pemerintah perlu untuk membuka gratis layanan aplikasi daring bekerjasama dengan penyedia internet dan aplikasi untuk membantu proses pembelajaran daring ini. Pemerintah juga perlu memberikan pelatihan pada guru-guru untuk melakukan bimbingan teknik (bimtek) online proses pelaksanaan daring dan melakukan sosialisasi tentang tata cara pelaksanaan pembelajaran daring pada guru-gurunya. Begitupun dalam hal pembelajaran itu sendiri, bagaimana guru bisa mengajarkan materi pada siswa-siswanya secara lebih menyenangkan.

Keberhasilan guru dalam melakukan pembelajaran daring pada situasi pandemi ini adalah kemampuan guru dalam berinovasi merancang, dan meramu materi, metode pembelajaran, dan aplikasi apa yang sesuai dengan materi dan metode pembelajaran serta aplikasi apa yang sesuai dengan materi dan metode. Kreatifitas merupakan kunci sukses dari seorang guru untuk dapat memotivasi siswanya tetap semangat dalam belajar secara daring (online) dan tidak menjadi beban psikis.

Di samping itu, kesuksesan pembelajaran daring selama masa COVID-19 ini tergantung pada kedisiplinan semua pihak. Oleh karena itu, pihak sekolah perlu membuat skema dengan menyusun manajemen yang baik dalam mengatur sistem pembelajaran daring. Hal ini dilakukan  dengan membuat jadwal yang sistimatis, terstruktur dan simpel untuk memudahkan komunikasi orangtua dengan sekolah agar putra putrinya yang belajar di rumah dapat terpantau secara efektif.

Namun begitu, kita semua berharap pandemi ini segera berakhir. Kita tidak ingin pandemi ini terus berlarut-larut. Kita selalu merindukan sekolah yang ramai dengan siswa yang datang ke sekolah, bercengkrama satu sama lain dan belajar berbagai hal di sekolah. Tidak hanya belajar pada tempat yang semu secara virtual, akan tetapi juga dapat berinteraksi satu sama lain di sekolah. Karena pada dasarnya, belajar itu kita berinteraksi, menemukan hal baru dari pengalaman kita di lapangan. Oleh karena itu kita tentu terus berharap, secepatnya kita semua, guru dan siswa bertemu di sekolah.

Harapan itu pun sedikit mulai terlihat dengan adanya vaksin yang sudah mulai diberikan ke berbagai profesi mulai dari nakes hingga yang terbaru adalah tenaga kependidikan. Semua guru dan tenaga kependidikan akan divaksin. Tentunya kita berharap apa yang sudah pemerintah lakukan pada proses vaksinasi ini akan menghasilkan sesuatu yang kita harapkan. Vaksin yang diberikan juga mudah-mudahan bisa efektif dalam menghambat bahkan menghentikan laju penularan covid-19 tanpa membuat suatu masalah lain yang harus dihadapi.

 

Pada akhirnya, manusia hanya bisa berikhtiar dalam segala hal, termasuk pada masa pandemi ini. Semoga pembelajaran akan tetap berjalan efektif meski kita masih berhadapan dengan pandemi ini. Begitu pula harapan kita pandemi ini agar cepat berlalu seiring dengan proses vaksinasi yang telah diberlakukan oleh pemerintah dan upaya dari semua pihak. Sehingga proses pembelajaran dapat terlaksana seperti semula dengan kehadiran guru dan siswa yang saling berinteraksi secara langsung di sekolah. Aamiin.

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *