Pohon Sawo Kecik di BPI

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Pohon Sawo Kecik di BPI

Oleh Noer Hadi Pratomo

(Guru Sejarah SMA BPI 2 Bandung)

 

Siapapun yang berkunjung ke BPI pasti pernah melewati atau melihat pohon besar yang sekarang terletak di kompleks taman SMA BPI 2 dekat lapangan utama,

bahkan seringkali orang-orang duduk bersantai pada kursi yang disediakan di taman tersebut. Namun berapa banyak orang yang bertanya-tanya pohon apakah itu? Tidak banyak yang tahu informasi mengenai pohon tersebut, malah beberapa kesan dari warga BPI menyiratkan bahwa pohon tersebut adalah pohon yang cukup angker. Hal tersebut tidaklah berlebihan, mungkin karena usianya yang sudah cukup tua dan ukuran pohon yang cukup besar. Tapi, lebih dari pada itu ternyata banyak informasi yang mendalam apabila kita sedikit memperhatikan. Awalnya saya sendiri pun tidak terlalu tertarik untuk memperhatikan pohon tersebut, tapi seiring dengan minat saya pada salah seorang tokoh, yaitu Pangeran Diponegoro saya mencoba untuk meneliti beberapa hal menarik yang dapat dihubungkan dengan pohon tersebut.

Setelah saya telusuri, ternyata pohon tersebut adalah pohon Sawo Kecik yang memiliki nama ilmiah Manilkara kauki. Hal tersebut terpampang secara jelas dari plang nama yang terpasang di pohon tersebut. Untuk persebarannya di Indonesia sendiri, Sawo Kecik ini biasa ditemui di daerah Jawa Tengah, khususnya di Yogyakarta yaitu di kompleks Museum Diponegoro, Keraton Yogyakarta dan juga di Solo yaitu Keraton Surakarta. Pohon ini ditanam secara berjajar dan sering dijadikan pertanda bahwa orang yang menanamnya adalah abdi dalem Keraton. Di samping itu, sepanjang saya mengamati sejarah Pangeran Diponegoro, pohon tersebut sengaja ditanam oleh para pengikut Diponegoro pasca Perang Jawa tahun 1825-1830. Hal tersebut dilakukan untuk mengenali satu sama lain, para pasukan membuat kode khusus yaitu dengan menanam pohon sawo kecik di kanan-kiri rumah mereka. (https://historia.id/kultur/articles/riwayat-sawo-kecik-pengikut-diponegoro-P0mzO/page/1).

Lalu mengapa mereka memilih tanaman sawo kecik sebagai kode khusus? Ternyata sawo kecik tersebut ditanam bukan tanpa alasan, sawo kecik memiliki makna yang sangat mendalam dan filosofis. Dalam pemahaman masyarakat Jawa, sawo kecik merupakan simbolisasi dari penamaan kebaikan atau dalam bahasa Jawa disebut “sarwo becik” yang artinya serba baik. Baik hatinya, baik pikirannya, baik tindakannya. Maka, bagi siapapun yang memperhatikan pohon tersebut, harapannya dapat menjadi pengingat bahwa segala sesuatu harus didasarkan pada nilai-nilai kebaikan. Akar yang baik menghasilkan batang yang baik, batang yang baik menghasilkan cabang yang baik, begitu seterusnya hingga pohon tersebut dapat memberikan keteduhan dan kesejukan, serta buahnya dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang menikmatinya.

Kembali ke pohon sawo kecik yang ada di BPI, hal ini menjadi suatu keunikan karena pohon yang persebarannya banyak ditemukan di Yogyakarta dan Solo ternyata dapat kita temui di lingkungan BPI yang notabene berada di kawasan Bandung atau Jawa Barat. Maka timbul pertanyaan, kenapa ini bisa terjadi? Siapa yang pertama kali menanam pohon ini? Apakah ada hubungan dengan abdi dalem Keraton? Kemudian saya melakukan sedikit penelusuran dan wawancara kepada salah seorang guru di lingkungan BPI yang turut menjadi saksi hidup dalam sejarah perkembangan BPI. Dari hasil penelusuran tersebut dapat diketahui bahwa orang yang pertama kali menanam adalah salah seorang pendiri BPI yaitu Pak Soetardjo Sindumintardjo, beliau berasal dari Solo yang kemudian berkiprah di Bandung dan turut andil untuk berjuang dalam Pertempuran Bandung Lautan Api bersama Mohamad Toha. Setelah pertempuran selesai Pak Soetardjo lebih fokus kepada masalah pendidikan agar dapat menampung anak-anak yang baru pulang dari pengungsian yang tidak dapat ditampung oleh sekolah-sekolah Pemerintah.

Dari tanya-jawab singkat tersebut, saya berasumsi bahwa boleh jadi Pak Sutardjo ini adalah keturunan abdi dalem keraton Solo atau setidaknya memiliki hubungan dengan keraton Solo, bahkan boleh jadi beliau merupakan salah satu keturunan para pengikut Pangeran Diponegoro. Hal ini tentu harus ditelusuri lebih jauh, namun setidaknya kita dapat mengambil beberapa pelajaran atau hikmah dari sedikit kisah tersetut. Pertama, sawo kecik ini adalah simbol menanam kebaikan, maka kita harus senantiasa melanjutkan semangat kebaikan sehingga suatu saat dapat kita tuai hasil dari kebaikan-kebaikan sebelumnya. Kedua adalah semangat perjuangan, kita perlu untuk meneladani semangat Pak Soetardjo yang turut andil dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tugas kita hari ini adalah melanjutkan semangatnya dalam bidang pendidikan, untuk mempersiapkan generasi yang lebih baik di masa yang akan datang. Ketiga, semangat kebersamaan. Pohon sawo kecik yang ada di Yogyakarta, Solo dan daerah Jawa bagian tengah biasanya ditanam secara berjajar, hal tersebut menyiratkan pesan bahwa kita harus senantiasa berbaris dan merapatkan barisan agar muncul rasa kebersamaan dalam rangka mencapai suatu tujuan atau cita-cita yang mulia.

Seiring dengan terus bertumbuhnya pohon ini maka harapannya Badan Perguruan Indonesia ini juga dapat bertumbuh dengan baik, menjadi bagian dalam rangka menyelenggarakan pendidikan dengan semangat kebaikan, semangat perjuangan, dan semangat kebersamaan agar tercapai tujuan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

About SMA BPI 2

Alamat: Jl.Burangrang No. 8 Bandung Kelurahan Burangrang Kecamatan Lengkong Kode Pos 40262 Kota Bandung

©2021 Tim IT SMA BPI 2 Bandung. All Rights Reserved.

Search